mountains056.jpg

Oleh: Verri DJ

http://ferrydjajaprana.multiply.com

Pagi ini baru dapat SMS dari kakak di Auckland, New Zealand, yang menyatakan ingin dikirimi kaset Senam Kesegaran Jasmani seri D, nah lo.. saya terkesiap karena sungguh tak pernah terbayangkan permintaan sejenis itu. Senam tersebut pernah aku lakukan waktu di SMP pada mid era 70 an silam, apa iya masih ada di toko kaset di negara kita? Sungguh aku tak percaya….

Permintaan saudara-saudaraku memang aneh-aneh, belum lama berselang tanteku yang tinggal di Houston, USA pun sama, minta dikirimi “terasi” karena di sana terasi memang tidak ada. Kebetulan ada kawan dia, seorang pejabat pemerintah,  yang akan berkunjung ke sana jadi sekalian saja nitip, apa lagi yang nitip tidak keberatan. Untuk tidak mengurangi kebahagian mereka tentu saja kami mengirimkan atau mengusakannya, bukankah permintaan mereka itu amat mudah mencarinya di bumi persada Nusantara ini?

Keluarga kami adalah keluarga Jawa, yang tidak lagi menganut paham “mangan ora mangan asal kumpul” (red: Makan nggak makan asal ngumpul), tetapi sebaliknya “Kumpul ora kumpul asal mangan” (Red: Kumpul nggak kumpul asal makan), sehingga keluargaku berpencar ke segala penjuru tak menentu. Berbeda dengan saudara-saudaraku, yang merantau ke negara-negara Barat, aku sendiri pernah merantau tapi ke Timur Tengah, menjadi TKI, dan bekerja di Dubai, United Arab Emirates. Dua gelombang kepergianku ke sana, pertama awal tahun ‘90an dan yang terakhir awal tahun 2000′an, yang ke dua hanya bertahan dua tahun, dan kini menetap di Jakarta. Kalau dalam kepergianku lain dengan mereka, biasanya sebelum aku pergi aku memborong kaset keroncong atau lagu melayu, yang bakal sulit ditemukan di sana, padahal kalau aku di Jakarta sendiri untuk memperdengarkan lagu itu cukup tune in Radio, yang frekwensinya bejibun banyaknya.

Masih ada satu cerita lagi tentang  tanteku yang tinggal di Peru, Amerika Latin sana, untuk mempersiapkan masa pensiunnya kelak, selain memiliki rumah di Jakarta juga memiliki tempat perisitirahatan di Ciawi, Villanya itu dekat kali, persis kampungku di Jawa yang sudah lama saya tinggal pergi sejak tahun 1976, selepas tamat SD. Tumbuhan-tumbuhan yang pernah ada di kampung halamanku, mulai dari pohon kelapa, pohon turi sampai bunga bougenville ada juga di villanya, persis miniatur lingkungan kampung halamanku.

Sweet Memory

Manusia memang senang sekali mengingat dua kejadian ekstrim, pertama adalah kejadian yang sangat membahagiakan dan ke dua adalah kejadian yang menyedihkan atau duka cita. Sudah fitrah manusia apa bila menyenangkan maka ingin diulang, tapi kalau menyakitkan ingin ditendang.

Pada beberapa penggalan cerita aktual di atas kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata kejadian-kejadian yang sifatnya enak, manis dan indah pada masa ke kanak-kanakan, akan terus dikenang, kalau memungkinkan di ulang. Ingin rasanya masa kanak-kanak itu tak berlalu begitu saja.

Sungguh naif, tanteku yang berpendidikan tinggi, yang bekerja di luar negeri, pindah dari satu negara ke negara lain, ternyata ingin menutup kehidupan sama seperti pada saat di mulai halaman awal kehidupan. Itulah manusia, menyenangi kehidupan yang semu, dan ingin kembali kepada keadaan semula. Andaikan kita tahu kalau kebahagian akhir adalah kebahagian semula tentu tak perlu kita pergi jauh-jauh. “Sejauh-jauh bango terbang tinggi, akhirnya ke kubangan juga” demikian peribahasa mengungkapkannya, cobalah kita tunjuk sang bango yang di angkasa itu? Satu jari telunjuk kita diangkat, sementara empat jari kita menunjuk kepada diri ini, artinya mencari kebahagiaan ini tak perlulah jauh-jauh, semuanya ada di dalam diri ini. Kepergian kita jauh-jauh adalah bukan merupakan kepastian  akan memperoleh kebahagiaan mutlak, jadi tak perlu risau apa bila kepergian kita ada di sekitar tanah kelahiran, karena kebahagiaan sejati itu ada pada bagaimana kita menyikapinya dan ikhlas terhadap fitrah Tuhan Yang Maha Esa, entah dimanapun kita berada di bumi ini.