beach052.jpg

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0604/30/keluarga/2617773.htm

Niat positif untuk melakukan pekerjaan amal, ternyata belum cukup. Walaupun semua orang tahu, beramal adalah sesuatu yang baik, tidak semua mudah percaya. Makanya, masih diperlukan kerja keras dan keteguhan hati dari para pelaku agar niat itu terwujud. Ketika Elizabeth Widjaja (34) berniat membuka sekolah gratis, dia harus mengetuk setiap rumah agar mau menyekolahkan anaknya di sana. “Mereka tidak ada yang percaya bahwa saya menyelenggarakan sekolah gratis. Katanya, di dunia ini tidak ada yang gratis,” kata Eli menirukan ucapan seorang tukang bakso yang tidak percaya pada bantuannya.

Tetapi Eli tidak putus asa. Setiap hari dia datang ke rumah-rumah untuk mengundang anak-anak sekolah. Eli mendapatkan 27 murid. Namun setelah kegiatan sekolah berjalan, Eli melihat, banyak orangtua yang kurang menghargai sekolah gratis yang dia berikan. “Mereka tidak mempunyai komitmen untuk terus menyekolahkan anaknya karena merasa tidak mengeluarkan uang. Akhirnya saya tetapkan setiap murid harus membayar uang sekolah Rp 5.000 tiap bulan. Hanya anak yang benar- benar tidak mampu yang dibebaskan uang sekolah. Setelah diminta bayar, barulah mereka memiliki komitmen,” cerita Eli.

Vanesa Wen, salah seorang penggagas Yayasan Untuk Cinta, yayasan yang membantu anak-anak penderita kanker, mengatakan, niat baik mereka untuk menolong penderita tidak selalu mendapat sambutan hangat.

“Pernah kami ditolak oleh seorang ibu karena ingin membawa anaknya yang menderita bibir sumbing dioperasi ke Jakarta. Ibu itu khawatir anaknya akan diapa-apakan. Akhirnya kami bawa saja seluruh keluarganya ke Jakarta, termasuk sang ibu, untuk mengurangi rasa khawatir itu,” tutur Vanesa. Setelah selesai operasi, ibu itu lalu mengucapkan terima kasih dan mengagumi anaknya sudah tidak sumbing lagi.

Selain itu, Vanesa mengaku dirinya tidak boleh hanya menunggu bola saja, melainkan harus datang langsung ke rumah sakit. “Kalau hanya menunggu bola, kita justru akan kewalahan karena begitu banyak orang yang datang minta pertolongan. Kami lebih memilih datang ke rumah sakit, dan fokus pada anak-anak yang menderita kanker,” ujar Vanesa.

Jika dilihat dari segi jumlah, mungkin apa yang dilakukan mereka belum ada apa-apanya. Namun sekecil apa pun itu, bantuan mereka sangat berarti buat mereka yang membutuhkan, dan juga buat negara yang agaknya masih belum mampu menyejahterakan rakyatnya ini.

(ARN/BOY)